Home Inspirasi Ketika Self care Justru Terasa Melelahkan
InspirasiPsikologi

Ketika Self care Justru Terasa Melelahkan

Share
Share

JakartaHi mom and sis, belakangan ini self care sering hadir sebagai jawaban atas hampir semua bentuk lelah. Namun alih-alih terasa menenangkan, tidak sedikit orang justru merasa semakin terbebani olehnya. Salah satu penyebabnya adalah makna self care yang semakin menyempit, karena dianggap menjadi aktivitas tertentu yang harus dilakukan secara rutin, konsisten, dan terlihat “berhasil”. Fokusnya bergeser dari kebutuhan menjadi performa, seolah merawat diri adalah kewajiban baru yang harus dipenuhi dengan benar.

Di titik ini, self care perlahan berubah menjadi tugas tambahan. Banyak orang merasa bersalah ketika tidak sempat melakukannya, atau ketika tidak merasakan efek “lebih baik” setelah mencoba berbagai ritual perawatan diri. Self care masuk ke dalam to do list, berdampingan dengan pekerjaan dan tanggung jawab lain, lengkap dengan tekanan untuk terus healing dan berkembang. Kelelahan pun bukan berkurang, melainkan berganti wajah.

Padahal, kelelahan yang dirasakan banyak orang tidak selalu selesai dengan ritual. Masalahnya sering kali bukan karena kurang merawat diri, melainkan hidup yang terlalu padat tuntutan. Beban kerja, ekspektasi sosial, dan tanggung jawab emosional yang menumpuk tidak bisa ditutup hanya dengan menambahkan satu aktivitas self care lagi. Dalam konteks ini, self care tidak bisa berfungsi sebagai penambal kelelahan struktural yang lebih dalam.

Karena itu penting melihat self care dari sudut pandang lain, bukan selalu soal menambah, tapi kadang justru mengurangi. Mengurangi komitmen yang menguras energi, mengendurkan standar pada diri sendiri, atau memberi izin untuk berhenti tanpa merasa gagal. Pendekatan ini sering terasa lebih lega, karena tidak menuntut kita menjadi versi “lebih baik” setiap saat.

Bagi banyak perempuan, rasa gagal dalam self care muncul bukan tanpa sebab. Sejak lama terbiasa merawat orang lain, menjaga harmoni, dan memastikan semua tetap berjalan, perempuan sering merasa harus selalu berfungsi. Budaya produktivitas pun menyusup ke ranah personal, membuat self care ikut diukur dari hasil dan konsistensinya bukan dari kejujuran terhadap kondisi diri.

Berikut ada beberapa alasan kita bisa gagal dalam self-care seperti dikutip dari tulisan Ghea Rae Sabrina dalam website www.loveyourselfindonesia.com diantaranya:

  1. Harapan yang terlalu tinggi
  2. Membuat rencana yang tidak tepat
  3. Terlalu mendambakan dampak yang terlalu besar
  4. Berpikiran egois dalam melalukan self-care
  5. Membiarkan hambatan yang ada

Dengan hidup pada saat ini, kita dapat menghargai semua aspek kehidupan kita, termasuk diri kita sendiri. Tentu saja, setiap orang menghadapi stres dan kecemasan secara berbeda, tetapi self-care  adalah kebutuhan universal untuk berkembang di dunia saat ini. Ingatlah untuk mencintai diri sendiri. Berusahalah untuk merawat satu-satunya tubuh yang kita  miliki sehingga dapat melanjutkan perjalanan hidup hingga akhir nanti.

Pada akhirnya, self care bukan proyek perbaikan diri yang harus dipamerkan atau diselesaikan. Self care lebih dekat dengan kejujuran mendengarkan tubuh dan emosi, serta mengakui bahwa tidak semua hari perlu “dirawat” dengan cara yang sama. Kadang, bentuk self care paling sederhana adalah berani mengakui lelah tanpa merasa perlu segera memperbaikinya. (ALF)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles
InspirasiPsikologi

Rutinitas Mingguan agar Hidup Terasa Lebih Teratur

Jakarta – Hi mom and sis, hidup yang terasa teratur sering disalahpahami...

InspirasiWhat's Your Say

Komunikasi Efektif yang Tidak Selalu Harus Dijelaskan

Jakarta – Hi mom and sis, dalam banyak relasi, komunikasi sering dipahami...

InspirasiWhat's Up

Hubungan Tidak Selalu Toxic, Tapi Bisa Tidak Sehat

Jakarta – Hi moms and sis, tidak semua hubungan yang melelahkan perlu...

InspirasiLifestylePsikologi

Gimana Hadapi Saat Peran Hidup Terus Bertambah

Jakarta – Hi Mom and sis, ada fase dalam hidup ketika rasa...