Jakarta – Hi moms and sis, menjadi ibu bekerja tidak hanya soal menjalankan dua peran besar dalam satu waktu seperti bekerja di luar rumah dan mengurus keluarga. Di balik rutinitas itu ada lapisan pengalaman yang sering tidak terdengar seperti beban mental, rasa bersalah yang terus menghantui, sampai tekanan sosial yang halus. Bagi banyak perempuan, tantangan-tantangan ini bukan sekadar “sibuk”, tetapi pengalaman batin yang memberi dampak besar pada kualitas hidup mereka. Dalam realitas inilah berbagai tantangan ibu bekerja muncul dan terus berulang dalam keseharian mereka, meski jarang benar-benar dibicarakan secara terbuka.
Dikutip dari website loker.id terdapat beberapa tantangan utama yang sering dihadapi oleh ibu bekerja, apa aja sih? Yuk simak moms and sis;
1. Menyeimbangkan Waktu
Bukan sekadar soal membagi jam, tetapi membagi perhatian, energi, dan kehadiran emosional antara pekerjaan, keluarga, dan diri sendiri. Banyak perempuan merasa selalu tertinggal di salah satu peran, meski sudah berusaha maksimal di semuanya.
2. Rasa Bersalah
Rasa bersalah sering hadir tanpa diminta, merasa kurang untuk anak, kurang untuk pasangan, dan kurang untuk pekerjaan. Bukan karena kurang usaha, tapi karena standar yang terus menuntut perempuan untuk selalu “cukup” di semua peran.
3. Stigma Masyarakat
Ibu bekerja masih sering dihadapkan pada label dan penilaian sosial yang tidak adil, seolah pilihan bekerja berarti mengurangi kualitas peran sebagai ibu. Stigma ini muncul halus, lewat komentar kecil, ekspektasi diam-diam, dan norma yang jarang dipertanyakan.
4. Tekanan untuk Menjadi Sempurna
Perempuan kerap didorong untuk menjadi sosok yang serba bisa. Sebagai ibu yang hadir, pekerja yang kompeten, pasangan yang suportif, dan individu yang tetap stabil. Tekanan ini membuat banyak perempuan hidup dalam standar yang tidak realistis, tanpa ruang untuk gagal.
5. Kurang Waktu untuk Diri Sendiri
Diri sendiri sering jadi prioritas terakhir. Bukan karena tidak penting, tapi karena semua peran lain terasa lebih mendesak. Akibatnya, banyak perempuan kehilangan ruang untuk bernafas, memulihkan diri, dan hadir sebagai individu, bukan hanya sebagai peran.
Menghadapi berbagai tantangan ini tidak bisa dibebankan pada perempuan seorang diri. Dibutuhkan lingkungan yang lebih suportif mulai dari pasangan, keluarga, tempat kerja, hingga sistem sosial yang lebih memahami realitas peran ganda. Di saat yang sama, penting bagi perempuan untuk memberi ruang pada diri sendiri. Moms and sis bisa menerapkannya dengan menetapkan batas yang sehat, mengenali kapasitas pribadi, dan berani meminta bantuan tanpa merasa gagal. (ALF)
Leave a comment