Jakarta – Hi mom and sis, memasuki usia 30 hingga 40-an, banyak perempuan mulai merasakan tubuhnya berubah. Namun perubahan ini tidak selalu datang secara dramatis atau langsung terlihat di cermin. Sering kali yang muncul lebih dulu adalah rasa energi yang tidak sama, respons tubuh yang terasa lambat, jauh sebelum ada perubahan fisik yang kasat mata. Pengalaman ini sebenarnya umum, meski jarang dibicarakan secara terbuka.
Perubahan fisik pada perempuan menjelang usia 30 hingga 40 tahun merupakan proses alami penuaan yang dipengaruhi oleh fluktuasi hormon, terutama penurunan produksi estrogen dan progesteron. Periode ini sering menjadi awal perimenopause (transisi menuju menopause), terutama di usia 40-an.
Seperti dikutip dari website vawomenshealth.com ditulis bahwa perubahan hormonal di usia 30-an biasanya halus tetapi tetap dapat memiliki efek yang terlihat. Kadar estrogen dan progesteron mulai berfluktuasi, dan bagi beberapa wanita, hal ini dapat menyebabkan gejala PMS yang lebih intens, perubahan pada kulit atau metabolisme, kelelahan atau perubahan suasana hati yang terkait dengan ketidakseimbangan hormonal.
Salah satu perubahan yang paling sering dirasakan adalah soal energi dan daya pulih. Aktivitas yang dulu terasa ringan kini lebih cepat melelahkan, dan tubuh membutuhkan waktu lebih lama untuk kembali bertenaga. Bukan karena tubuh tiba-tiba menjadi “lemah”, melainkan karena cara tubuh merespons aktivitas tidak lagi secepat sebelumnya. Banyak perempuan merasakan hal ini, meski sulit menjelaskannya secara spesifik.
Selain itu, sebagian perempuan juga merasakan perubahan yang berkaitan dengan hormon, tanpa pernah mendapatkan diagnosis tertentu. Suasana hati bisa terasa lebih labil, siklus tubuh terasa berbeda, atau respons fisik terhadap stres dan kelelahan berubah. Pengalaman-pengalaman ini kerap dirasakan sebagai sesuatu yang “aneh”, padahal banyak perempuan berada di fase serupa.
Perubahan tubuh ini juga tidak bisa dilepaskan dari beban hidup yang menyertainya. Di rentang usia ini peran sering bertambah, baik dalam pekerjaan, keluarga, maupun relasi. Stres yang berlangsung lama, kurangnya waktu jeda, dan tuntutan untuk terus berfungsi ikut mempengaruhi kondisi tubuh. Artinya, perubahan yang terjadi bukan semata soal usia, tetapi juga konteks hidup yang berubah.
Sayangnya perubahan tubuh perempuan di usia ini jarang mendapat ruang bicara yang aman. Tubuh perempuan kerap dituntut untuk tetap “stabil”, sementara perubahan dianggap sebagai keluhan berlebihan. Minimnya narasi yang empatik membuat banyak perempuan memilih diam, meski tubuhnya jelas memberi sinyal.
Karena itu, merawat tubuh di usia 30–40-an seharusnya tidak dipahami sebagai upaya melawan usia. Perawatan bukan tentang mengoreksi tubuh agar kembali seperti dulu, melainkan tentang mendengarkan dan menyesuaikan diri dengan kebutuhan yang berubah. Bukan memaksa, melainkan memahami bahwa perubahan adalah bagian dari proses, bukan kegagalan tubuh. (ALF)
Leave a comment