Home Inspirasi Hubungan Tidak Selalu Toxic, Tapi Bisa Tidak Sehat
InspirasiWhat's Up

Hubungan Tidak Selalu Toxic, Tapi Bisa Tidak Sehat

Share
Share

JakartaHi moms and sis, tidak semua hubungan yang melelahkan perlu langsung diberi label “toxic”. Ada hubungan yang tampak baik-baik saja dari luar, minim konflik besar, dan berjalan stabil, tetapi di dalamnya menyisakan rasa tidak nyaman yang sulit dijelaskan. Perasaan lelah, tertekan, atau kehilangan diri sendiri seringkali dianggap wajar, seolah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari sebuah hubungan.

Belakangan, istilah “toxic relationship” sering digunakan untuk menggambarkan hubungan yang penuh manipulasi atau kekerasan emosional. Padahal, hubungan tidak harus berada di titik ekstrim untuk bisa dikatakan tidak sehat. Hubungan bisa menjadi tidak sehat ketika komunikasi tidak setara, kebutuhan emosional kerap diabaikan, atau salah satu pihak terus-menerus menyesuaikan diri demi menjaga hubungan tetap berjalan.

Bentuk hubungan tidak sehat sering kali hadir secara halus. Misalnya, pasangan yang jarang benar-benar mendengarkan, tetapi menuntut untuk selalu dipahami. Atau ketika rasa tidak nyaman dianggap berlebihan, sementara batasan pribadi terus dilanggar atas nama kepedulian dan rasa sayang. Tidak ada pertengkaran besar, tidak ada kata-kata kasar, namun ada kelelahan emosional yang perlahan menumpuk.

Meski demikian, banyak orang tetap bertahan dalam hubungan seperti ini. Rasa sayang, takut kehilangan, kekhawatiran dianggap gagal, hingga kebiasaan menomorduakan kebutuhan diri sendiri menjadi alasan yang sering muncul. Dalam banyak kasus, bertahan terasa lebih aman dibanding menghadapi ketidakpastian di luar hubungan.

Jika berlangsung lama, hubungan yang tidak sehat dapat berdampak pada kondisi emosional. Rasa ragu terhadap diri sendiri, kelelahan mental, hingga perasaan bersalah yang terus-menerus bisa muncul tanpa disadari. Hubungan yang seharusnya menjadi ruang aman justru berubah menjadi sumber tekanan, membuat seseorang semakin jauh dari dirinya sendiri.

Dilansir dari hellosehat.com, ada sebuah web yang dikelola oleh University of Southern California menyatakan bahwa hubungan yang toxic membuat seseorang berisiko tinggi mengalami penyakit jantung. Ini karena hubungan tidak bahagia membuat seseorang cenderung memiliki tekanan darah yang tinggi, obesitas, dan mengalami perlambatan dalam proses penyembuhan luka.

Namun tidak semua hubungan bermasalah harus diberi cap “toxic”. Penting untuk jujur ketika sebuah hubungan lebih sering menguras jiwa raga daripada menguatkan. Hubungan yang sehat tidak selalu sempurna, tetapi memberi ruang untuk didengar, dihargai, dan tetap menjadi diri sendiri. Mengenali perbedaannya adalah langkah awal untuk menjaga kesehatan emosional, baik dalam hubungan dengan orang lain maupun dengan diri sendiri. (ALF)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles
InspirasiLifestylePsikologi

Gimana Hadapi Saat Peran Hidup Terus Bertambah

Jakarta – Hi Mom and sis, ada fase dalam hidup ketika rasa...

InspirasiLifestylePsikologiWhat's Up

Simak Tips Jaga Hubungan Tetap Nyaman Bersama Okamoto

Jakarta – Hi Moms and sis, memasuki awal tahun 2026 para Gen...

What's Up

FWD Future Me Dorong Karir Perempuan di Sektor Asuransi

Jakarta – Hi mom and sis, peran perempuan dalam dunia kerja terus...

InspirasiKesehatanParenting

Peringatan HGN Momentum Edukasi Gizi Anak di Sekolah

Jakarta – Hi mom and sis! Momentum peringatan Hari Gizi Nasional (HGN)...