Jakarta – Hi Mom and sis, ada fase dalam hidup ketika rasa lelah tidak lagi datang karena pekerjaan yang terlalu berat. Target masih bisa dikejar, ritme kerja relatif sama, dan secara profesional semuanya berjalan. Namun tubuh terasa cepat habis, kepala penuh, dan energi seakan menipis bahkan sebelum hari berakhir.
Bagi banyak perempuan yang sudah lama bekerja, kelelahan ini sering kali bukan soal pekerjaan semata, melainkan akumulasi peran hidup yang berjalan bersamaan. Bekerja penuh waktu, mengurus rumah, menjaga relasi, memenuhi ekspektasi sosial, dan tetap hadir secara emosional untuk banyak orang. Situasi tersebut semuanya menyedot energi, meski tidak selalu terlihat sebagai beban kerja.
Di titik ini lelah tidak selalu bersifat fisik. Ada kelelahan emosional yang muncul pelan-pelan saat energi habis karena harus terus menyesuaikan diri, memahami kebutuhan orang lain, dan tetap berfungsi dengan baik di berbagai peran. Istirahat saja sering tidak cukup, karena yang terkuras bukan hanya tubuh, tetapi juga ruang batin.
Tidak jarang solusi yang ditawarkan adalah mengatur waktu dengan lebih rapi. Namun bagi sebagian perempuan, waktu bukan lagi masalah utama. Justru yang lebih mendesak bagaimana mengelola energi. Seseorang bisa memiliki jadwal yang tertata, tapi tetap merasa kosong dan lelah jika terlalu banyak peran menuntut hadir secara penuh dalam waktu bersamaan.
Mengelola energi bukan tentang menjadi lebih produktif, melainkan tentang memilih. Memilih peran mana yang benar-benar layak diberi tenaga penuh, dan mana yang bisa dijalani secukupnya. Memilih untuk tidak selalu memenuhi semua ekspektasi dengan intensitas yang sama, terutama ketika kapasitas diri sedang terbatas.
Kejujuran pada diri sendiri menjadi kunci di sini. Mengakui bahwa energi tidak selalu stabil, dan bahwa kapasitas bisa berubah seiring fase hidup. Mengurangi tuntutan bukan berarti menyerah, melainkan menyesuaikan diri agar tetap utuh.
Bagi perempuan yang merasa capek tetapi tidak bisa berhenti, mungkin yang dibutuhkan bukan perubahan besar, melainkan kesadaran bahwa kelelahan ini valid. Bahwa hidup yang bertambah perannya memang meminta cara baru dalam mengelola energi, bukan untuk berlari lebih cepat, tetapi agar tetap bisa berjalan tanpa kehilangan diri sendiri. (ALF)
Leave a comment