Home Inspirasi Kenapa Perempuan Dewasa Mudah Lelah tapi Sulit Mengakuinya?
InspirasiPsikologi

Kenapa Perempuan Dewasa Mudah Lelah tapi Sulit Mengakuinya?

Share
Share

JakartaHi Moms and sis, sadar gak sih kalau ada satu kondisi yang sering dialami banyak perempuan dewasa, tetapi jarang benar-benar dibicarakan secara jujur. Rasanya kalau mengakui diri ini lelah kita terlihat lemah, padahal kita hanya mencoba jujur dengan apa yang kita rasakan.

Lelah ini bukan sekadar kurang tidur atau kehabisan energi fisik. Tetapi lelah ini hadir dalam bentuk pikiran yang terasa penuh, emosi yang cepat terkuras, dan perasaan ingin berhenti sejenak tanpa tahu harus berhenti di mana.

Namun saat kita mencoba jujur dengan apa yang kita rasakan, yang kita dapat bukanlah dukungan, tetapi kalimat seperti ini.

“Namanya juga kerja” “Wajar capek, kan sudah jadi ibu” “Semua orang juga ngalamin, ga perlu merasa paling capek di dunia ini”

Kalimat-kalimat itu akrab di telinga banyak perempuan. Pelan-pelan, rasa lelah emosional pun dianggap biasa, bahkan dianggap sebagai tanda bahwa kita sedang menjalani peran sebagai perempuan dengan “benar”.

Banyak perempuan hidup dalam peran ganda atau bahkan tiga peran sekaligus. Bekerja secara profesional, mengurus rumah, merawat anak atau orang tua, menjaga relasi, dan tetap dituntut hadir secara emosional. Semuanya berjalan bersamaan, tanpa ada jeda yang diberikan. Terlebih dalam budaya kita, perempuan sering dibesarkan dengan pesan bahwa kuat itu artinya bertahan. Belum lagi ada ekspektasi tidak tertulis yang membentuk kehidupan perempuan dewasa.

Di usia produktif, perempuan diharapkan berprestasi dalam pekerjaan, hadir penuh untuk keluarga, tetap mengurus rumah, menjadi pasangan yang suportif, dan tetap “baik-baik saja”. Lalu ada anggapan kalau perempuan mampu melakukan banyak hal sekaligus itu merupakan kelebihan dan mengeluh identik dengan lemah.

Bagi sebagian perempuan, mengakui lelah terasa seperti membuka pintu rasa bersalah. Takut dianggap tidak bersyukur, takut dinilai tidak mampu mengatur hidup, dan takut mengecewakan orang lain. Padahal mengakui lelah bukan berarti menyerah, justru itu bentuk kejujuran pada diri sendiri. Kelelahan emosional bukan sesuatu yang harus dilawan atau disangkal. Karena itu adalah pesan bahwa ada batas yang perlu dihormati. Bahwa tubuh dan emosi juga butuh dirawat, bukan hanya dimanfaatkan untuk terus memberi.

Perempuan dewasa tidak kurang kuat karena merasa lelah. Justru, keberanian untuk mengakui lelah adalah bentuk kedewasaan emosional. Jika hari ini kamu merasa mudah lelah dan sulit menjelaskannya, mungkin kamu tidak sendirian. Mungkin kamu hanya terlalu lama menempatkan dirimu di urutan terakhir. Hal itu bukan kesalahanmu, tetapi kamu berhak untuk mulai mendengarkan diri sendiri pelan-pelan tanpa rasa bersalah. Karena istirahat emosional bukan kemewahan, tetapi kebutuhan. (ALF)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles
InspirasiKesehatanParenting

Peringatan HGN Momentum Edukasi Gizi Anak di Sekolah

Jakarta – Hi mom and sis! Momentum peringatan Hari Gizi Nasional (HGN)...

InspirasiParenting

Ini Lho Pola Asuh yang Bisa Jadi Panduan Orang Tua

Jakarta – Hi Moms and sis, sebagai orang tua, tidak jarang kita...

BeautyInspirasiLifestyle

Ini Urutan Skincare yang Tepat di Pagi Hari

Jakarta, Hi Moms and sis, sebagai perempuan tentunya kita seringkali merawat wajah...

HijrahInspirasi

Moms, Ini Makna Penting Peristiwa Isra’ Mi’raj

Jakarta – Moms and girls, Isra’ Mi’raj merupakan suatu perjalanan malam yang...