Jakarta – Hi Moms and sis, sebagai orang tua, tidak jarang kita dihadapkan pada berbagai ekspektasi dari lingkungan sekitar. Mulai dari tuntutan agar anak tumbuh bahagia dan sehat, berkembang secara optimal, memiliki kecerdasan dan akhlak yang baik, hingga kelak meraih kesuksesan dalam hidup. Sayangnya ekspektasi itu sering berubah menjadi tekanan, terutama bagi seorang ibu yang diharapkan dapat menjadi orang tua yang sempurna.
Padahal realitanya tidak sesederhana itu lho moms and sis. Banyak ibu menjalani hari dengan rasa cemas takut salah asuh, takut anak tertinggal, takut dinilai kurang baik. Lalu saat ekspektasi tidak tercapai, yang muncul justru rasa bersalah, malu, dan perasaan “aku ibu yang gagal”. Kondisi ini pelan-pelan bisa menggerus mental dan kebahagiaan ibu sendiri.
Dikutip dari website belajarparenting.id para ahli perkembangan anak sejak lama mengingatkan bahwa orang tua sempurna tidak ada. Pola asuh good enough parent diperkenalkan oleh Dr. Donald Winnicott, seorang dokter anak dan psikoanalis asal Inggris. Ia menekankan bahwa orang tua tidak harus jadi sempurna untuk mendukung pertumbuhan anak yang sehat secara emosional.
Hadirnya Good enough parenting menjadi solusi bagi para orang tua, di tengah hiruk-pikuk atau pro kontra praktik mengasuh anak. Pola asuh ini mengajarkan bahwa:
• Ibu dan anak tidak harus sempurna. Ketidaksempurnaan adalah bagian dari kehidupan yang justru mengajarkan anak menjadi lebih tangguh dan adaptif.
• Kesalahan adalah kesempatan belajar, bukan kegagalan mutlak. Anak-anak belajar dari pengalaman, termasuk dari frustasi kecil.
• Pola asuh bukan kompetisi. Prioritasnya bukan tentang memenuhi teori parenting terbaru, tapi memahami kebutuhan anak dan respon orang tua yang tulus.
Moms and sis, sebagai ibu sangatlah manusiawi bila kadang merasa lelah, bingung, atau bahkan ragu. Tapi good enough parenting mengajak kita untuk membebaskan diri dari standar yang tidak realistis, menghargai proses tumbuh kembang anak tanpa tuntutan sempurna, dan merawat diri sendiri sebagai bagian dari menjadi ibu yang sehat secara emosional.
Ini bukan berarti kurang peduli, melainkan lebih memperhatikan diri sendiri dan anak kita. Ketika seorang ibu memberi dirinya ruang untuk bernapas, anak justru belajar tentang ketangguhan dan kemampuan pulih dari kesulitan secara alami.
Good enough parenting bukan berarti mengajarkan ibu untuk bermalas-malasan. Sebaliknya, ini adalah pengingat agar ibu berhenti membandingkan diri, berhenti menghakimi setiap kesalahan kecil, dan fokus pada hal yang paling penting yakni hubungan yang aman, cinta yang konsisten, dan kehadiran yang nyata.
Bagi ibu yang sering merasa tertekan karena harus menjadi “sempurna”, pola asuh good enough parenting menawarkan perspektif yang lebih ringan dan realistis. Cukup baik itu lebih dari cukup, karena anak tidak butuh orang tua sempurna, mereka butuh orang tua yang ada, yang mencintai, dan yang belajar bersama mereka. (ALF)
Leave a comment