Cantik & Sehat

Jangan Tunggu Tua, Investasikan Otak Sedini Mungkin

RS Atma Jaya yang berlokasi di Pluit, Jakarta Utara meluncurkan Paviliun Bonaventura hari ini.  Peluncuran ini sesuai degan misi RS Atma Jaya, yaitu menyelenggarakan dan mengembangkan layanan kesehatan komprehensif yang bermutu sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi.

Di samping itu, RS juga memiliki misi untuk menyediakan sarana dan iklim pembelajaran yang kondusif bagi mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Katolik Atma Jaya dalam upaya menghasilkan dokter yang memiliki kompetensi medik, kepekaan sosial, kesadaran, sikap dan perilaku etis, serta mampu menunjang kegiatan Tridharma Perguruan Tinggi.

Dalam Press Conference terkait Peluncuran tersebut, salah satu tema terkini yang diangkat adalah pentingnya mendeteksi dini saraf penciuman yang merupakan data kesehatan penting untuk mendeteksi tanda awal kerusakan di otak sekaligus menjadi faktor risiko demensia.  RS Atma Jaya merupakan RS pertama di Indonesia yang menyediakan layanan ini.

Pemeriksaan gangguan ini  pada seseorang dilakukan dengan menggunakan aroma yang dikenal di negara masing-masing. Apabila orang tersebut tidak dapat mengidentifikasi aroma-aroma yang diujicobakan,  maka diduga telah terjadi gejala awal kerusakan otak dan pasien harus diperiksa lebih lanjut. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak menunggu menjadi lansia atau tua untuk menjaga kesehatan otak melainkan  menginvestasikan otak secara dini.

Terkait dengan peluncuran Paviliun Bonaventura, Ir. Aswin Wirjadi, Ketua Pengurus Yayasan Atma Jaya berharap, “Agar dengan diluncurkannya Paviliun Bonaventura dapat semakin melengkapi sarana dan prasarana program-program studi yang berhubungan dengan pendidikan dan penelitian di lingkungan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Unika Atma Jaya”.

Dr. Meta Dewi Thedja, M. Biomed.,Ph.D, Direktur Utama RS Atma Jaya mengatakan, “Visi RS Atma Jaya adalah menjadi RS Pendidikan Utama bagi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Katolik Atma Jaya yang Kristiani, Unggul, Peduli, Profesional dan menjadi pusat rujukan pelayanan kesehatan masyarakat Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.”

“Evidence-based medicine adalah pendekatan pengobatan kepada pasien dengan berdasarkan hasil dan bukti ilmiah yang diperoleh dari penelitian yang baik sehingga dapat memberikan tata laksana pengobatan berbasis ilmiah kepada para pasien. Evidence-based medicine merupakan hal penting bagi para praktisi kesehatan profesional termasuk para dokter dalam memberikan pendekatan pengobatan bagi pasien dan keluarga pasien karena mengedepankan basis bukti ilmiah dan dapat dipertanggung jawabkan. Sehingga penelitian yang baik sangatlah dibutuhkan untuk menjadi dasar keputusan para profesional bidang kesehatan mengambil keputusan bagi tiap pasien yang ditangani, tambahnya.

Ia melanjutkan, “Terdapat beberapa Center of Excellent RS Atma Jaya, yakni  Atma Jaya Neuroscience and Cognitive Center (ANCC), dimana banyak keunggulan RS Atma Jaya dibandingkan RS lain. Diantaranya adalah deteksi awal kelainan cognitive pada berbagai tingkatan usia yang juga dikembangkan pada dokter ahli saraf RS Atma Jaya berdasarkan clinical research sebagai basis ilmiah dan dilengkapi dengan pemeriksaan kognitif berbasis komputer.  Di samping itu, Pelayanan Geriatri, dengan bertambahnya usia harapan hidup orang Indonesia, tentu peranan para praktisi kesehatan dalam mempertahankan quality of life para pre-lansia dan lansia menjadi penting. Bidang lain, yaitu Orthopedic Center. Bone and joint merupakan hal yang sangat penting sebagai modalitas individu dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Dengan dukungan kompetensi para dokter Orthopedic yang ahli dalam berbagai bidang knee dan hip, hand surgery, spine, pain management, dan fasilitas pendukung, menjadikan Orthopedic Center RS Atma Jaya terdepan dalam penanganan masalah bone and joint.”

Dekan Fakultas Kedokteran dan kesehatan  UNIKA Atma Jaya, Dr. dr. Yuda Turana, SpS, mengatakan, “Pola hidup sehat sejak masa muda, menentukan kesehatan otak di masa tua.  Tanpa sadar semua investasi yang sudah mulai Anda lakukan sekarang sangat bergantung pada satu hal yang utama yaitu ketangkasan intelektual Anda. Investasi otak adalah bagaimana tetap menjaga otak Anda tetap sehat dan produktif.”

Untuk memastikan kondisi kesehatan otak perlu dilakukan pemeriksaan, terutama untuk individu yang memiliki faktor risiko seperti hipertensi dan diabetes. Hal ini dilakukan sebagai bentuk pencegahan kerusakan otak pada saat lansia.

“Dalam konteks proses penuaan di otak, setiap orang saat usia 40 tahun, sebaiknya sudah pernah melakukan medical check up atau yang umur lebih muda namun dengan faktor risiko, misalnya obesitas, adanya DM dan lain-lain. Pemeriksaan medical check up , harus komprehensif, termasuk deteksi dini kerusakan otak”, dr. Yuda menambahkan.

Berdasarkan Penelitian Enhancing Diagnostic Accuracy of aMCI in the Elderly : Combination of Olfactory Test, Pupillary Response Test, BDNF Plasma Level and APOE Genotype, 20141 yang dilakukan di Fakultas kedokteran Atma Jaya dan telah dimuat pada  International Journal of Alzheimer Disease 2016, menunjukkan skor yang rendah pada pemeriksaan saraf penciuman menjadi prediktor prademensia. Dari penelitian diketahui bahwa gangguan saraf penciuman yang tidak disadari, dapat merupakan tanda awal proses penuaan di otak dan menjadi faktor risiko demensia Lebih lanjut dalam presentasinya, Dr.dr.Yuda Turana, SpS menjelaskan, “Pemeriksaan menggunakan aroma yang familiar dengan kondisi Indonesia. Bila pasien tidak mampu mengidentikasi jenis aroma (padahal tidak sedang ‘pilek’ atau ada gangguan hidung lain), maka kemungkinan besar, sebagai prediktor prademensia.”

Sementara itu pada kesempatan yang sama, Dr. Rensa, Sp.PD-K.Ger, spesialis Geriatri di RS Atma Jaya menjelaskan, “Proses menua secara alamiah akan dialami oleh setiap manusia. Proses menua akan terus berjalan, tidak dapat dihentikan atau dicegah, hanya dapat diperlambat. Dengan bertambahnya usia, fungsi fisiologis mengalami penurunan akibat proses penuaan sehingga penyakit lebih mudah terjadi pada lansia. Selain itu, proses degeneratif di berbagai organ menurunkan daya tahan tubuh sehingga rentan terkena infeksi penyakit menular.”

Data dari Statistik Penduduk Lanjut Usia yang dilansir oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2017, menyebutkan bahwa dalam waktu hampir lima dekade, persentase lansia di Indonesia meningkat sekitar dua kali lipat (1971-2017), yakni menjadi 8,97% (23,4 juta) dimana lansia perempuan sekitar 1 % lebih banyak dibandingkan lansia laki-laki (9,47% banding 8,48%). Selain itu, 1 Enhancing Diagnostic Accuracy of aMCI in the Elderly : Combination of Olfactory Test, Pupillary Response Test, BDNF Plasma Level and APOE Genotype, Yuda Turana, Teguh Asaat S. Ranakusuma, Jan Sudir Purba, Nurmiati Amir, Siti Airiza Ahmad, Moh Hasan Machfoed, Yvonne Suzy Handayani, Asmarinah and Sarwono Waspadji, 2014

lansia Indonesia didominasi oleh kelompok umur 60-69 tahun (lansia muda) yang persentasenya mencapai 5,65% dari penduduk Indonesia. Hal ini yang menguatkan bahwa Indonesia memiliki struktur penduduk tua  (Aging Society).

“Dari aspek kesehatan, hampir separuh lansia mengalami keluhan kesehatan sebulan terakhir. Angka kesakitan lansia cenderung menurun setiap tahun. Pada tahun 2017, angka kesakitan lansia dinyatakan sebesar 26,72%. Artinya, dari 100 lansia terdapat sekitar 27 lansia yang sakit. Dibandingkan tahun 2015, angka kesakitan lansia hanya turun sekitar 2%. Sebesar 7,68% lansia pernah rawat inap dalam setahun terakhir. Persentase lansia yang sakit lebih dari 3 minggu cukup besar, yakni sekitar 14%,” jelas dr Rensa.

Terkait dengan rumitnya permasalahan kesehatan yang dialami serta karakter khusus yang dimiliki oleh pasien lansia dan geriatri, maka diperlukan cara dan pendekatan yang berbeda dibandingkan dengan pasien yang usianya lebih muda (<60 tahun). 

“Pengkajian Paripurna Pasien Geriatri (P3G) merupakan suatu prosedur untuk mengevaluasi pasien geriatri secara multidimensi, dengan mengurai semua masalah pasien, menemu kenali semua aset pasien, mengidentifikasi jenis pelayanan yang dibutuhkan, dan mengembangkan rencana asuhan secara terkoordinasi. Metode pengkajian ini mencakup hampir seluruh aspek dalam kehidupan lansia tersebut (bio-psiko-sosio-spiritual),” tambah dr Rensa.

“Salah satu komponen penting dalam P3G adalah penilaian fungsi kognitif. Beberapa penyakit kronis tertentu seperti diabetes, dislipidemia (kenaikan kadar lemak darah), dan hipertensi dianggap sebagai faktor risiko dari gangguan/penurunan fungsi kognitif melalui interaksi kompleks yang menyebabkan perubahan seluler di otak manusia,” tutupnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

4
To Top