Cantik & Sehat

kemajuan Bidang Kardiovaskular di Indonesia

Jakarta – Annual Scientific Meeting of Indonesian Heart Association (ASMIHA) yang diselenggarakan secara teratur setiap tahunnya oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) memperingati tahun ke-27 .

Pencitraan kardiovaskular memainkan peranan sangat penting dalam memahami penyakit kardiovaskular secara lebih baik sehingga diharapkan dapat menurunkan angka kematian dan kecacatan akibat penyakit ini.

Pada kasus Penyakit Jantung Bawaan (PJB), pencitraan kardiovaskular merupakan hal yang fundamental. Pencitraan kardiovaskular sangat diperlukan sejak awal tahapan diagnosis, mulai dari pemeriksaan ekokardiografi sampai dengan modalitas diagnostik lanjut dengan menggunakan pencitraan Computed Tomografi (CT), Magnetic Resonance Imaging (MRI) dan kateterisasi diagnostik.

Namun demikian, dalam pelaksanaannya, tatalaksana pencitraan kardiovaskular masih memerlukan peningkatan, terutama dalam ketersediaan SDM dan alat yang belum merata di seluruh Indonesia.

“Sebagai organisasi profesi yang tahun ini mencapai usianya yang ke-61, PERKI telah mencapai beberapa milestone, antara lain terwujudnya Perjanjian Kerja Sama dengan Badan PPSDM Kemenkes terkait program bantuan pendanaan Fellowship in Training PERKI yang berkesinambungan. Kerjasama ini demi memenuhi kebutuhan nasional akan dokter Spesialis Jantung & Pembuluh darah kompetensi lanjut yang diperlukan dalam pelayanan secara nasional terutama di RS Umum Rujukan. PERKI juga menginisiasi terwujudnya buku Model Optimal Pelayanan Kardiovaskular RS Rujukan. Kedepannya, buku ini dapat bermanfaat sebagai salah satu pedoman dalam usaha menurunkan angka kematian akibat penyakit Kardiovaskular di Indonesia”. kata DR. dr. Ismoyo Sunu, SpJP(K), FIHA, Ketua Umum Pengurus Pusat PERKI

Ia menerangkan, “Kerjasama dalam negeri yang lain yaitu terjalinnya nota kesepakatan PERKI dan Asosiasi Institusi Pendidikan Teknologi Biomedis Indonesia (AIPTBI). Diharapkan melalui kerjasama ini tenaga – tenaga ahli Indonesia akan mampu menciptakan berbagai peralatan kardiovaskular yang berkualitas dan ekonomis”.

dr. Oktavia Lilyasari, SpJP(K), FIHA memberi gambaran mengenai Penyakit jantung bawaan (PJB) di Indonesia, “Dengan jumlah kelahiran hidup sekitar 4,5 juta per tahun diperkirakan terdapat lebih dari 40.000 bayi yang lahir dengan PJB. Hampir sepertiganya menderita PJB kritis yang mengancam jiwa dan memerlukan penanganan pada hari pertama atau tahun pertama kehidupan. Prevalensi ini terus meningkat seiring dengan perkembangan pada diagnosis dan tatalaksana penyakit tersebut. Risiko morbiditas dan mortalitas meningkat seiring dengan adanya keterlambatan dalam hal diagnosis ataupun keterlambatan dalam merujuk ke pelayanan kesehatan tersier untuk tatalaksana selanjutnya.”

Dalam presentasinya ia memaparkan bahwa untuk penegakan diagnosis PJB memerlukan beberapa modalitas diagnostik dari yang sederhana hingga yang canggih. Dalam beberapa dekade terakhir, terjadi perubahan tren metode pencitraan lanjut dengan kateterisasi jantung berubah ke arah metode yang sifatnya lebih non-invasif lanjut dengan menggunakan modalitas pencitraan CT jantung dan MRI.

“Pencitraan kardiovaskular merupakan hal yang fundamental dalam diagnosis PJB. Pencitraan kardiovaskular dapat menguraikan anatomi dan fisiologi tubuh, menyempurnakan tatalaksana, mengevaluasi akibat dari intervensi yang diberikan, dan juga membantu penentuan prognosis pasien. Sayangnya belum ada satu modalitas pencitraan yang dapat memenuhi seluruh peranan tersebut tanpa bantuan modalitas pencitraan lain. Oleh sebab itu, penilaian PJB harus melibatkan berbagai modalitas pencitraan yang fungsinya saling melengkapi satu sama lain, sensitif, akurat, reprodusibel, dan hemat biaya, dengan efek samping yang minimal,” tutupnya.

 

5
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

4
To Top