Cantik & Sehat

Indonesia Menelan Biaya Tertinggi untuk Masalah Obesitas di Asia Tenggara

Et harum quidem rerum facilis est et expedita distinctio. Nam libero tempore, cum soluta nobis est eligendi optio cumque nihil impedit.

Photo: Shutterstock

Jakarta – Indonesia menghabiskan biaya obesitas tertinggi di Asia Tenggara yaitu sebesar US$2 miliar hingga US$4 miliar pada tahun 2016, berdasarkan laporan yang dirilis hari ini oleh Asia Roundtable on Food Innovation for Improved Nutrition (ARoFIIN) – sebuah kemitraan publik-swasta yang didirikan untuk mengatasi masalah yang berkaitan dengan obesitas, malnutrisi dan penyakit tidak menular (NCDs).

Berdasarkan laporan yang disusun oleh ARoFIIN dan diterbitkan oleh The Economist Intelligence Unit (EIU), laporan tersebut merupakan laporan pertama guna melakukan analisis lebih rinci mengenai dampak ekonomi dari masalah obesitas di ASEAN. Dengan judul “Menangani obesitas di ASEAN – Secara umum, dampak, dan panduan dalam intervensi”, laporan tersebut menharapkan adanya upaya bersama dari otoritas kesehatan untuk mengatasi masalah obesitas sehingga dapat menghindari kesulitan pada sistem layanan kesehatan.

Dampak dan Biaya Ekonomi dari Obesitas Meskipun Indonesia menempati posisi ke empat tertinggi dalam masalah obesitas dan kelebihan berat badan pada umumnya – masing –masing 5.7% dan 24.5%- di antara enam negara1 yang diteliti dalam laporan ini, namun Indonesia secara keseluruhan menghabiskan biaya2 obesitas tertinggi yaitu sebesar US$2 miliar hingga US$4 miliar pada tahun 2016, setara dengan 8% hingga 16% dari pengeluaran perawatan kesehatan nasional. Angka ini diikuti oleh Malaysia dengan pengeluaran sebesar US$1 miliar sampai US$2 miliar (setara dengan 10% hingga 19% dari pengeluaran perawatan kesehatan nasional), selanjutnya Singapura dengan pengeluaran sebesar US$400 juta hingga US$1 miliar (setara dengan antara 3% sampai 10% dari pengeluaran kesehatan nasional). Biaya ini disebabkan oleh lonjakan penyakit tidak menular seperti diabetes tipe 2, kanker, penyakit kardiovaskular dan stroke, seiring dengan meningkatnya absensi dari pekerjaan yang timbul karena penyakit dan kesehatan yang buruk.

Mencakup enam Negara di Asia Tenggara, yaitu Singapura, Malaysia, Indonesia, Thailand, Indonesia dan Vietnam Biaya Langsung dan Tidak Langsung Terlepas dari biaya, masalah terkait obesitas memiliki implikasi dampak yang luas. Berdasarkan Laporan tersebut, obesitas mengurangi tahun produktif di antara individu yang mengalami obesitas di ASEAN dengan rata-rata antara empat dan sembilan tahun. Karena kegemukan pada pria, Filipina mengalami penurunan tahun produktif karena obesitas yang paling signifikan yaitu mencapai 8 hingga 12 tahun. Diikuti oleh Malaysia yaitu 6 hingga 11 tahun, dan Indonesia yaitu 6 hingga 10 tahun. Karena kegemukan pada wanita, penyakit terkait obesitas mengurangi usia produktif mencapai tiga hingga delapan tahun di Indonesia.

Pilihan pola makan yang buruk, meningkatnya ketersediaan makanan tidak sehat dan gaya hidup tanpa aktivitas
menyebabkan obesitas Penyebab utama terjadinya obesitas di Indonesia pada umumnya adalah konsumsi makanan padat energi dan gizi buruk, pilihan pola makan yang buruk dan kurang berolahraga. Ketersediaan makanan per kapita telah tumbuh sebesar 40%, dengan 20% dari sumber lemak, dan 93.5% penduduk Indonesia mengkonsumsi kurang dari 5 porsi buah dan sayuran dalam sehari. Dengan meningkatnya urbanisasi, populasi masyarakat pekerja yang lebih besar juga berarti semakin banyak pilihan makanan yang cenderung tinggi karbohidrat dan lemak.

Lingkungan fisik Indonesia juga berkontribusi terhadap kurangnya olah raga karena tidak kondusif untuk melakukan aktivitas fisik – negara ini hanya memiliki sedikit jalur sepeda, trotoar atau kawasan pejalan kaki, dan sangat sedikit jumlah taman.

“Mengubah pola makan dan gaya hidup adalah kunci dalam mengatasi obesitas,” kata Bruno Kistner, Sekretaris ARoFIIN. “Kita perlu meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pedoman diet dan pentingnya olahraga.”

Intervensi yang efektif Dari bebera intervensi yang lebih efektif yang disorot dalam Laporan, indeks glikemik rendah3, diet rendah kalori, rendah lemak dan rendah karbohidrat, serta olahraga teratur, terbukti paling menjanjikan dalam mengurangi obesitas baik pada tingkat individu maupun populasi.

“Tidak ada formula ajaib untuk mengatasi epidemi obesitas yang berkembang di Asia. Pemerintah di wilayah ini perlu menyadari bahwa obesitas akan menjadi tantangan kesehatan nomor satu yang akan kita hadapi dalam dua sampai tiga dekade mendatang, “kata Kistner yang bertanggung jawab untuk mendorong keefektifan kemitraan publik-swasta

3 The Glycaemic Index (GI) Adalah peringkat makanan berdasarkan kemampuan untuk menaikkan kadar glukosa darah saat 50 g karbohidrat dari makanan tersebut dimakan. Mereka diberi peringkat GI rendah, sedang atau tinggi berdasarkan hasilnya. Makanan dengan GI rendah meningkatkan kadar glukosa darah lebih lambat dari makanan GI yang tinggi. Meski GI rendah tidak berarti makanan itu bergizi.

ARoFIIN.” Setiap sektor memiliki peran untuk dimainkan. Harus ada usaha yang tepat antara industri, pemerintah dan masyarakat sipil – kemajuan yang nyata hanya dapat dilakukan melalui keterlibatan yang konstruktif, transparan dan akuntabel dengan semua pemangku kepentingan. ”

Dalam industri ini, produsen makanan global juga telah berinovasi untuk menawarkan produk makanan yang terjangkau dan lebih sehat dan diperkaya dengan mineral, dan kandungan garam, gula dan lemak yang lebih rendah. Ke depannya, ARoFIIN berharap dapat memperluas jangkauannya dengan bekerja sama dengan usaha kecil dan menengah di Asia Tenggara untuk melakukan hal yang sama.

Langkah Kedepan Dr Simon Baptist, Kepala Ekonom EIU yang memimpin Laporan ini, mencatat bahwa data prevalensi obesitas di wilayah ini tidak merata dan seringkali tidak ditemukan di semua wilayah ASEAN. Hal ini menghambat pembuatan kebijakan, yang dapat menyebabkan program atau intervensi tertentu tidak dapat ditargetkan. “Penelitian ini merupakan yang pertama kalinya dilakukan analisis terperinci mengenai obesitas. Kami berharap ini akan membantu memperdalam pemahaman tentang ancaman obesitas di Asia Tenggara, “kata Dr Baptist.

Laporan tersebut menunjukkan bahwa tingkat obesitas sangat bervariasi, tergantung pada perbedaan etnis, genetik,
regional dan ekonomi dan menyoroti kebutuhan strategi pencegahan obesitas secara hati-hati, dan bukan pendekatan satu solusi untuk semua masalah. Dr Baptist menambahkan, “Laporan ini bertujuan menjadi panduan bagi pembuat kebijakan, organisasi kesehatan dan industri saat mereka mengatasi meningkatnya ancaman obesitas di satu wilayah secara bersamaan. Diperlukan waktu untuk mengidentifikasi komunitas yang berisiko dan dapat memungkinkan pengembangan kebijakan lebih cerdas serta intervensi yang lebih tepat sasaran, dan mengatasi obesitas dapat membantu membebaskan sumber daya dalam sistem perawatan kesehatan nasional dan menyalurkannya ke area lain yang perlu mendapat perhatian. “

5
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

4
To Top