Cantik & Sehat

Sehatkah Tiroidmu?

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque laudantium, totam rem aperiam.

Jakarta – Sebagian besar kasus kanker tiroid dapat disembuhkan. Jika diketahui sejak dini dan pasien kanker tiroid menjalani pengobatan dengan baik dan tepat, maka angka harapan hidup (survival rate) dapat mencapai 100 persen.

“JEM 2017 yang diselenggarakan Divisi Metabolik Endokrin Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM pada tanggal 22-23 Juli 2017
bekerja sama dengan Perkumpulan Endokrinologi Indonesia Cabang Jakarta (PERKENI Jaya) ini merupakan JEM yang ke-13 dengan mengambil tema ‘All About Thyroid from A to Z’. Acara ini bertujuan memperkaya pengetahuan para dokter dan awam tentang perkembangan terkini berbagai penyakit mengenai tiroid. Pasien yang mengikuti acara Seminar Edukator Tiroid hari ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuannya tentang penyakit-penyakit tiroid, khususnya kanker tiroid dan selanjutnya dapat memberikan edukasi atau berbagi pengetahuan tentang kanker tiroid kepada pasien yang lain.” kata dr. Dante Saksono H, SpPD-KEMD, PhD, Ketua JEM 2017.

“Gangguan tiroid, terutama Hipertiroid, lebih sering terjadi pada wanita dibanding pria. Data RISKESDAS 2013, berdasarkan gejala yang dikeluhkan, didapatkan sekitar 0,4% populasi Indonesia menderita hipertiroid. Hipertiroidisme berarti aktivitas kelenjar tiroid yang terlalu tinggi, ditandai dengan tingginya kadar hormon tiroksin di dalam darah. Hal ini menyebabkan tingkat metabolisme meningkat dan menimbulkan gejala-gejala antara lain; jantung berdebar, tangan gemetar, tingginya serum hormon tiroid bebas. Gejala pada hipertiroid yaitu jantung berdebar, badan gemetaran, keringat berlebih, tidak tahan suhu panas, sulit tidur, buang air besar bisa 3-4x sehari (bukan diare), berat badan menurun, dan emosi yang kurang stabil. Sering ditemui pasien hipertiroid terlihat -tidak bisa diam, cenderung bergerak terus seperti orang gelisah.” jelas  dr. Farid Kurniawan, SpPD.

“Benjolan pada kelenjar tiroid sebenarnya jumlahnya cukup banyak ditemukan di populasi bahkan jika dilakukan General Check Up dengan USG, angkanya bisa mencapai 50% dari populasi. Tetapi untungnya hanya sekitar 1-5% dari benjolan tersebut yang sifatnya ganas (kanker). Benjolan di dalam tiroid dapat merupakan benda padat atau berisi cairan dan berdasarkan fungsinya bisa normal, hiper- maupun hipotiroid.” ujar dr. Dante Saksono Herbuwono, SpPD, K-EMD, PhD.

“Kanker tiroid merupakan salah satu jenis kanker yang bisa disembuhkan dengan angka kekambuhan yang relatif kecil. Terapi dengan operasi pengangkatan seluruh kelenjar tiroid, supresi dengan hormon tiroksin, dan bila diperlukan terapi ablasi iodium radioaktif, pada sebagian besar pasien akan diperoleh angka harapan hidup 5 atau bhakna 10 tahun dapat mencapai 100%. Oleh karena itu masyarakat
diharapkan agar tidak terlalu khawatir, yang penting adalah melakukan deteksi dini, secepatnya berkonsultasi ke dokter jika menemukan adanya benjolan di tiroid, dan agar patuh terhadap tatalaksana yang dianjurkan oleh dokter jika memang terdiagnosa kanker tiroid”, tutup dr. Dante.

Masyarakat dihimbau untuk mewaspadai dan memahami gejala kanker tiroid seperti munculnya benjolan atau pembengkakan pada bagian depan leher yang terlihat ikut bergerak naik turun dengan gerakan menelan. Benjolan tersebut biasanya tidak terasa sakit, kadang-kadang dapat disertai gejala sulit menelan, sesak napas, atau suara serak. Namun perlu diperhatikan bahwa tidak semua benjolan yang muncul pada kelenjar tiroid disebabkan oleh kanker tiroid.

 

5
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

4
To Top